Langsung ke konten utama

DINANSTI ABBASIYAH


I.          Pendahuluan
A.    Latar belakang
Daulah Abbasiyah adalah imperium Islam kedua setelah daulah bani umayyah, sebagai sebuah kekhalifahan yang mampu memerintah dan mempertahankan kekuasaan selama kurang-lebih 5 (lima) abad, daulah abbasiyah mampu menyebar luaskan ajaran-ajaran Islam dan pengaruhnya kepada seluruh dunia serta menjadi Negara terkuat dan terluas wilayahnya ketika itu.
Banyak hal yang dapat kita kaji dan kita ambil ibrah atau hikmah dari sejarah dinasti abbasiyah ini, sebagai sebuah dinasti yang disebut-sebut oleh kalangan ilmuan sebagai golden age (masa keemasan) kebudayaan dan peradaban Islam banyak hal yang diwarisi oleh peradaban dinasti abbasiyah ini, baik yang meliputi bidang ilmu pengetahuan, militer, ekonomi, arsitektur dan lain-lain.
Salah satu hasil dari kebudayaan dan peradaban Islam masa ini adalah beberapa hasil karya dalam kajian keilmuan filsafat Islam, penerjemahan-penerjemahan ilmu pengetahuan dari yunani dan romawi, penataan administrasi ketata-negaraan yang lebih baik daripada dinasti Mu’awiyah, dibuatnya mata uang yang berbahasa arab dan lain-lain.
Kekuasaan dan kemajuan peradaban dimasa daulah abbasiyah ini tidaklah dicapai secara instan, tapi melalui perjuangan dan jerih payah serta pengorbanan yang ditinggi, oleh karena itu penting sekali membahas sejarah berdirinya daulah abbasiyah ini.
Adapun makalah ini akan membahas atau mengkaji tentang sejarah singkat dinasti abbasiyah dan penulisan karya tulis ini akan difokuskan kajiannya pada pembahasan dearabisasi pada masa bani abbasiyah ini.

B.     Rumusan masalah:
1.    Bagaimana sejarah singkat daulah abbasiyah?
2.    Apa arti dan pengertian dearabisasi?

II.      Pembahasan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka penulis akan membahas tentang sejarah singkat dinasti abbasiyah dan arti dan makna dearabisasi, sebagai berikut:
A.    Sejarah singkat dinasti abbasiyah
Dinasti abbasiyah berdiri setelah berhasil menggulingkan dinasti umayyah kira-kira pada tahun 749-750 Masehi. Banyak hal yang melatar belakangi tumbangnya dinasti umayyah ini, berikut penulis kutipkan beberapa pendapat ilmuan mengenai latar belakang runtuhnya dinasti Mu’awiyah ini, sebagai berikut: 
Pendapat pertama penulis rangkum dari pendapatnya Philip K. Hitti dalam bukunya yang berjudul History of the Arabs, sebagai berikut[1]:
1.      Kebobrokan akhlak penguasa/khalifah, mereka lebih senang berfoya-foya ketimbang mengurusi pemerintahan.
2.      Terlalu menekankan semangat individualism dan atau semangat kesukuan (‘ashabiyah).
3.      Konflik antar suku dan antar anggota keluarga
4.      Munculnya kelompok-kelompok pemberontak yang disebabkan oleh kesalahan para penguasa seperti kelompok Ali (Syi’ah), Khawarij dan lain-lain.
5.      Pemerintahan dinasti Mu’awiyah termasuk Arab-Sentris yang memunculkan kekecewaan dari kalangan/kelompok-kelompok yang merasa dianak tirikan/mawali (berasal dari kata mawla yang berarti budak).
6.      Terbentuknya koalisi antara kekuatan Syi’ah, Khrasan dan Abbasiyah.
Sedangkan dalam eksiklopedi sejarah Islam diterangkangkan bahwa sebab keruntuhan dinasti umayyah adalah[2]:
1.      Pengangkatan lebih dari satu putra mahkota
2.      Timbulnya fanatisme kesukuan
3.      Kehidupan para khalifah yang melampui batas
4.      Fanatisme kearaban bani umayyah
5.      Kebencian golongan syi’ah
Pendapat yang lain menyatakan bahwa keruntuhan dinasti Mu’awiyah disebabkan oleh[3]:
1)      Politik kepegawaian didasarkan pada klan, golongan, suku, kaum dan kawan.
2)      Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya.
3)      Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab, sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.
4)      Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan.
Dari beberapa pendapat diatas, tentulah dapat kita kaji bahwa keruntuhan dinasti Umayyah disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan oleh mereka sendiri (bersifat internal), seperti ke-tidak kompeten-nan penguasa atau khalifah, kesalahan dalam mengambil kebijakan yang terlalu arab-sentris dan lain-lain, sedangkan terdapat pula yang berasal dari luar (eksternal) seperti pergolakan atau pemberontakan dari pihak luar dan lain-lain.
Namun hal menarik lain yang perlu dikaji adalah keberhasilan dinasti abbasiyah menggulingkan dinasti Umayyah, berikut adalah dasar-dasar didirikannya dinasti Abbasiyah[4]:
1.      Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan
2.      Dasar universal yang tidak berlandaskan kesukuan
3.      Dasar politik dan administrasi secara umum tidak diangkat berdasarkan kesukuan
4.      Dasar persamaan hukum bagi setiap masyarakat
5.      Pemerintah bersifat muslim dan bangsa arab dipandang sebagai salah satu ras saja
6.      Hak memerintah sebagai ahli waris Nabi Muhammad SAW.
Setelah berhasil menggulingkan bani umayyah, daulah abbasiyah mampu bertahan dan memimpin kekhalifahan Islam selama kurang lebih 5 (lima) abad.
Berikut adalah nama-nama para khalifah yang penulis susun menurut para penguasa dari segi keluarga[5] (lihat juga lampiran-lapiran tentang jalur nasab para khalifah):
A)    BANI ABBAS (750-932 M)
1)      Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M)
2)      Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M)[6]
3)      Khalifah Al-Mahdi (775-785 M)
4)      Khalifah Al-Hadi (785-786 M)
5)      Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)[7]
6)      Khalifah Al-Amin (809-813 M)
7)      Khalifah Al-Makmun (813-833 M)[8]
8)      Khalifah Al-Muktasim (833-842 M)
9)      Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)
10)  Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M)
11)  Khalifah Al-Muntasir (861-862 M)
12)  Khalifah Al-Mustain (862-866 M)
13)  Khalifah Al-Muktazz (866-869 M)
14)  Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M)
15)  Khalifah Al-Muktamid (870-892 M)
16)  Khalifah Al-Muktadid (892-902 M)
17)  Khalifah Al-Muktafi (902-908 M)
18)  Khalifah Al-Muktadir (908-932 M)
B)    BANI BUWAIHI (932-1075 M)
1)      Khalifah Al-Kahir (932-934 M)
2)      Khalifah Ar-Radi (934-940 M)
3)      Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M)
4)      Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M)
5)      Khalifah Al-Mufi (946-974 M)
6)      Khalifah At-Tai (974-991 M)
7)      Khalifah Al-Kadir (991-1031 M)
8)      Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M)
C)    BANI SALJUK (1075-1258 M)
1)      Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M)
2)      Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M)
3)      Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M)
4)      Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M)
5)      Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M)
6)      Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M)
7)      Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M)
8)      Khalifah An-Nasir (1180-1224 M)
9)      Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M)
10)  Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)
11)  Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M)
Dimasa kekhalifahan daulah abbasiyah ini, setidaknya terdapat beberapa peristiwa penting sebagai berikut[9]:
a)      749[10]: Dinasti Abbasiyah menaklukkan Kufah dan mengusir dinasti Umayyah.
b)      750-754: Khalifah Abul Abbas As Saffah. Khalifah Abbasiyah pertama. Membantai seluruh anggota keluarga Umayyah. Sebuah isyarat bagi monarki absolut yang sama sekali baru bagi Islam.
c)      755-775: Kekhalifahan Abu Ja‘far al Mansur. Dia membunuh pemimpin-pemimpin Syiah ternama.
d)     756: Spanyol memisahkan diri dari kekhalifahan Abbasiyah dan membangun kerajaan merdeka di bawah kepemimpinan salah seorang keluarga Umayyah yang melarikan diri.
e)      762: berdirinya Bahgdad yang menjadi ibu kota baru dinasti Abbasiyah.
f)       765: kematian Ja‘far al Shadiq. Imam Kelima Syiah yang menghimbau murid-muridnya untuk menarik diri dari kancah perpolitikan.
g)      769: meninggalknya Abu Hanifah. Pendiri mazhab hukum Islam pertama.
h)      775-785: kekhalifahan al Mahdi. Dia mendukung perkembangan Fiqh, penghargaan keimanan gerakan religius yang secara bertahap belajar hidup berdampingan dengan absolutisme dinasti Abbasiyah.
i)        786-809: Kekhalifahan Harun al Rasyid. Puncak kejayaan kekuasaan Abbasiyah. Kebangkitan budaya di Bahgdad dan kota-lota lain dikerajaan tersebut. Selain memberikan beasiswa, menyokong ilmu dan seni, khalifah juga mendorong studi Fiqh dan pengumpulan Hadith yang membantu pembentukan badan yang sesuai dengan hukum Islam.
j)        795: Malik Ibn Anas wafat. Pendiri mazhab hukum Maliki.
k)      801: Meninggalnya Rabiah Adaweyah. Sufi (mistikus) wanita pertama yang terkenal.
l)        809-813: perang saudara antara al Makmun dan al Amin. Dua anak laki-laki Harun al Rasyid. Al Makmun mengalahkan saudaranya.
m)    813-833: kekhalifahan al Makmun .
n)      814-815: Pemberontakan Syiah di Bashrah. Pemberontakan Khawarij di Khurasan. Sebagai seorang intelektual, pelindung seni dan pembelajaran. Khalifah condong pada teologi rasionalistik Muktazilah, sebuah aliran yang sebelumnya kekhilafahanya sangat tidak disukai.
o)      817: al Makmun menunjuk al Ridha, Imam Syiah Kedelapan sebagai penggantinya.
p)      818: al Ridha meninggal (kemungkinan dibunuh). Sebuah inkuisisi (Mihnah) yang disponsori negara berusaha menerapkan pandangan-pandangan Muktazilah untuk mengalahkan pandangan-pandangan Ahlul Hadith.
q)      833: Meninggalnya Ahmad ibn Hanbal, seorang tokoh ahlul hadith dan pendiri mazhab hukum Hanbali.
r)       833-842: Kekhalifahan al Muktashim. Khalifah ini membentuk sendiri korps pribadi yang terdiri dari para budak Turki dan memindahkan ibukotanya ke Samarra.
s)       848: Ali al Hadi, Imam Syiah Kesepuluh dipenjara di benteng Askari di Samarra.
t)       868: Meninggalnya Imam Syiah Kesepuluh. Putranya, Hasan al Askari terus hidup sebagai narapidana di Samarra.
u)      870: meninggalnya Ya‘qub ibn Ishaq al Kindi. Filsuf muslim pertama.
v)      874: Hasan al Askari, Imam Syiah Kesebelas meninggal dalam penjara di Samarra. Putranya, abu al Qasim Muhammad dikabarkan telah bersembunyi untuk menyelamatkan diri. Dia terkenal sebagai Imam Mahdi. Meninggalnya Abu Yazid al Busthami. Salah satu generasi awal “Sufi Pemabuk“[11].
w)    909: Syiah Fathimiyah merebut kekuasaan di Afrika dan Tunisia.
x)      910: Meninggalnya Junaid al Baghdadi. “Sufi Bijak“ pertama.
y)      922: Hukuman terhadap “Sufi Pemabuk“ Husain al Manshur yang terkenal sebagai al Hallaj. Sang pemintal wol karena dianggap menghina Tuhan.
z)      923: meninggalnya sejarawan Abu Ja‘far al Thabari di Bahgdad.
aa)   934: Ghaibnya Imam Kedua Belas, Abu al Qasim Muhammad dalam alam di luar pemahaman manusia mendapatkan pengakuan.
bb)  935: Meninggalnya Hasan al Asy‘ari. Dari sini, khalifah tidak lagi memegang kekuasaan duniawi, tetapi tetap memegang kewenangan simbolis. Kekuasaan yang sebenarnya kini terletak pada penguasa-penguasa lokal yang membangun dinasti-dinasti pada bebagai bagian kerajaan.kebanyakan dari mereka mengakui kekuasaan khalifah-khalifah Abbasiyah. Banyak penguasa lokal abad ke 10 cenderung beraliran syiah atau cenderung menyokong gerakannya.
cc)   1258 runtuhnya dinasti abbasiyah karena serangan mongol[12]
B.     Arti dan makna dearabisasi
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa arti kata de, sebagai berikut[13]:
de- [2] /dé/ bentuk terikat menghilangkan; mengurangi: degresi; dehidrasi
sedangkan kata arab diartikan[14]:
Arab n 1 nama bangsa di Jazirah Arab dan Timur Tengah; 2 bahasa Semit yg digunakan bangsa Arab (Saudi Arabia, Suriah, Yordania, Irak, Mesir, dsb);
meng·a·rab·kan v 1 mengalihbahasakan (menerjemahkan) ke dl bahasa Arab; 2 menjadikan warga negara Arab;
ke·a·rab-a·rab·an a bersikap dan bertingkah laku spt orang Arab
adapun kata sasi diartikan sebagai berikut:
-isasi (-asi) sufiks pembentuk nomina proses, cara, perbuatan: aktualisasi; legalisasi; lokalisasi
Dalam kamus webster’s dijelaskan bahwa kata arab mempunyai arti:
            Ar-ab/’ar-ab/ n (ME, fr. L arabus, Arabs, fr. GK Arab-‘ Araps, fr. Ar peninsula b : a member of the Semitic- speaking people 2 : ARABIAN HORSE – Arab adj[15]
Dari sub-sub kata diatas, jika dijadikan satu maka akan menjadi kata “dearabisasi” yang mempunyai arti suatu proses mengurangi atau menghilangkan kearaban.
Menurut penulis istilah dearabisasi  ini muncul setelah terdapat istilah arabisasi pada pada daulah Umayyah, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dearabisasi adalah kontradiksi dari istilah arabisasi pada masa Umayyah.
Arabisasi pada masa umayyah meliputi beberapa hal berikut:
1.      Administrasi Negara menggunakan bahasa Arab dan semua daerah Islam harus menggunakan bahasa Arab[16].
2.      Seluruh pejabat terdiri dari orang-orang keturunan bangsa Arab.
3.      Peraturan-peraturan yang berbahasa Romawi dan Persia disalin kebahasa Arab[17].
4.      Terbentuknya golongan mawali
5.      Homogenitas masyarakat pada masa Umayyah, sehingga putra bangsa arab yang lahir diluar daerah arab diberikan akte kelahiran.
Adapun beberapa faktor yang menimbulkan dearabisasi pada masa dinasti Abbasiyah adalah:
1.      Pembentukan daulah abbasiyah didukung oleh orang-orang selain arab seperti orang mawali, Khurasan, Persia dan lain-lain.
2.      Luasnya daerah daulah Abbasiyah yang sudah lintas bangsa Arab
3.      Dinasti Abbasiyah dalam pemerintahannya bercorak plularisme, para pejabat pemerintah terdiri dari golongan-golongan non-arab.
Selain beberapa faktor diatas, tentunya masih terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan dearabisasi pada masa dinasti Abbasiyah, sehingga perlu adanya kajian yang mendalam dan lebih sempurna mengenai faktor-faktor tersebut.
Menurut kajian penulis, beberapa bidang yang mengalami dearabisasi pada masa dinasiti Abbasiyyah adalah, sebagai berikut:
1.      Pejabat-pejabat negara tidak hanya terdiri dari orang-orang Arab, melainkan lintas bangsa, baik yang berkebangsaan Persia, Turki manupun yang campuran.
2.      Pluralisme masyarakat terbentuk pada masa ini, sehingga tidak ada perbedaan ras.
3.      Penerjemahan-penerjemahan buku-buku dari bahasa latin kepada bahasa Arab, sehingga sedikit banyak berpengaruh kepada dearabisasi ilmu pengetahuan yang tidak hanya bersumber dari al-Qur’an dah hadits.




III.         Kesimpulan
Daulah Abbasiyyah berdiri karena pergolakan politik dan kerusakan atau kemunduran dinasti Umayyah, sedidaknya terdapat dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi, kebobrokan akhlakul karimah para khalifah dinasti Umayyah, terjadi konflik keluarga dalam memperebutkan kekuasaan dan lain-lain, faktor eksternal meliputi, terbentuknya kekuatan para pemberontak dan bersatunya golongan-golongan yang merasa dianak tirikan oleh pihak pemerintah yakni dinasti Umayyah, ketidak puasan golongan mawali, Syi’ah Khawarij dan lain-lain terhadap kebijakan pemerintah, serta terjadinya pemberontakan-pemberontakan didaerah, dan beberapa faktor lain.
Islam mencapai puncak kejayaan pada masa bani Abbasiah, daulah ini terdiri dari 37 khalifah yang memerintah kurang lebih 5 abad. Banyak hal yang terjadi selam 500 tahun kepemimpinan Islam dalam kancah dunia internasional ini, pengembangan dunia pendidikan, pengembangan dunia militer dan pertahanan, perluasan dan penyebaran dakwah islamiyyah, dan lain-lain.
Terjadinya dearabisasi pada masa dinasti abbasiyah yang meliputi beberapa bidang diantaranya
1.      bidang politik, banyak para pejabat yang tidak hanya berasal dari bangsa arab tapi juga non arab, seperti Sahl bin Isa dari Persia dan lain-lain
2.      pendidikan, pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa arab saja
3.      sosial dan budaya, masyarakat sudah pluralism
4.      keamanan dan pertahanan, para serdadu perang sudah lintas eksnis baik suku arab, persia, turki maupun afrika.
Terakhir, Luasnya daerah kekuasaan dinasti Abbasiyah ini menimbulkan banyak problem dan catatan sejarah yang sangat penting untuk dikaji.

IV.        Referensi

Abdullah, Prof. Dr. Taufik, dkk. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005.

Armando, Ade dkk. Ensiklopedi islam untuk pelajar. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005.

Hitti, Philip K.. History of the arabs; from the earliest times to the present. Ter: R. cecep lukman yasin dan dedi slamet riyadi. Jakarta: PT. serambi ilmu semesta. 2005

Hitti, Philip K.. The Arabs: a short History. Washington, DC USA:  Regnery gateway. 1993

Hourani, albert habib. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991.

Hourani, Albert. Sejarah bangsa-bangsa muslim. Bandung: mizan. 2004.



Ira M, Lapidus. A History of Islamic societies, New York USA: Cambridge University Press. 1990

Kamus besar bahasa Indonesia, edisi ke-10 menteri pendidikan dan kebudayaan.

Maryam, siti dkk. Sejarah peradaban islam dari masa klasik hingga modern. Yogyakarta:Fac adab. 2002

Nur Hakim, Moh. Islam sejarah dan Peradaban, malang: universitas muhammadiah malang. 2004

Sou’yb, Joesoef. Sejarah Daulat Abbasiah. Bulan Bintang. Tanpa tahun.

Syalabi, A, Prof, Dr. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta: Pustaka al-Husna.

Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafido Persada. 2004.

Webster, A Merriam-. Webster’s ninth new collegiate dictionary. United States of America.

Yusuf, al-Isy, Dr. Tarikh ‘Ash Al-Khilafah al-‘Abbasiyyah. Darul Fikr Damaskus. Tanpa tahun.

“sekilas sejarah umat Islam”, tanpa nama pengarang dan tahun



[1] Philip K. Hitti. History of the arabs; from the earliest times to the present. Ter: R. cecep lukman yasin dan dedi slamet riyadi. Jakarta: PT. serambi ilmu semesta.2005
[2] Prof. Dr. Taufik Abdullah, dkk. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005. Hal: 74
[4] Ajid Thohir. Perkembangan Peradaban di Kawasan dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafido Persada. 2004. Hal: 44
[5] Ade Armando dkk. Ensiklopedi islam untuk pelajar. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005. Hal: 3
[6] albert habib Hourani. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991, hal: 33
[7] albert habib Hourani. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991, hal: 33
[8] albert habib Hourani. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991, hal: 36
[9] Dikutip dan disarikan dari “sekilas sejarah umat Islam”, tanpa nama pengarang dan tahun
[10] albert habib Hourani. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991, hal: 32
[11] Sufi pemabuk diartikan sebagai mabuk kepada ridha dan hidayah serta kecintaan kepada Allah SWT, bukan arti harfiyyah yaitu memium-minuman keras sehingga lupa diri.
[12] Lihat juga di: Philip K. Hitti. The Arabs: a short History. Washington, DC USA:  Regnery gateway. 1993 hal:107
[13] Kbbi hal: 242
[14] Kamus besar bahasa Indonesia, hal:62
[15] A Merriam-Webster. Webster’s ninth new collegiate dictionary. United States of America. Hal: 99
[16] Badri yatim: 89
[17] Badri yatim: 89

Komentar